Latest Post



Jumat, pukul 05.00 sore waktu Helsinki, Finlandia. Shadia Marhaban duduk terpekur. Di sampingnya, ada tiga lelaki. Munawar Liza Zainal, Teuku Hadi, dan seorang warga asing yang menjadi penasihat bagi negosiator GAM, Damien Kingsbury. 

Raut wajah mereka cemas.Sementara, udara di luar gedung Koningsted, tempat Crisis Management Inisiative (CMI) --lembaga yang memediasi perundingan RI-GAM di Helsinki-- berkantor, terasa begitu panas. Tapi Shadia dan tiga rekannya tetap berada dalam kamar.

Di sudut kamar itu, beberapa kali Munawar Liza tampak sibuk berbicara dengan seseorang di ujung telepon. Tak tahu entah apa yang dibicarakan. Beberapa komputer di kamar itu juga masih menyala. Praktis, tak banyak yang bisa mereka lakukan saat itu, selain hanya menunggu diliputi perasaan gundah.

Tak berapa lama, kamar yang mereka tempati didatangi lima pria. Mereka adalah Malik Mahmud, Zaini Abdullah, Bakhtiar Abdullah, Muhammad Nur Djuli, dan Nurdin Abdul Rahman. "Perundingan sudah selesai," kata Malik dengan raut wajah muram. Munawar Liza bersama empat rekannya kaget. Malik Mahmud kemudian juga meminta semua barang dan peralatan di kamar itu dikumpulkan. Mereka hendak pulang besok.

Kalimat "sudah selesai" yang dikatakan Malik Mahmud langsung dimengerti Munawar Liza dan tiga rekannya. "Saya dan Shadia serta dua rekan lainnya sangat sedih saat itu," katanya.
Ternyata, pernyataan Malik menunjukkan bahwa perundingan antara GAM yang diwakili Malik Mahmud dengan delegasi RI yang diwakili Hamid Awaluddin dan Sofyan Djalil di Gedung Koningsted, Helsinki, gagal mencapai kesepakatan pada hari itu.

Pemerintah Indonesia menolak klausul partai politik lokal (parlok) untuk dimasukkan dalam MoU Helsinki. Padahal, secara umum GAM sudah menyepakati 98 persen isi MoU. Hanya saja, perundingan kemudian deadlock karena Pemerintah Indonesia menolak memasukkan klausul parlok di Aceh.

Sekelumit kisah yang terjadi pada 15 Juli 2005 itu tidak banyak diketahui publik, kecuali setelah diceritakan kembali oleh Munawar Liza pada puncak peringatan tiga tahun MoU Helsinki di Blangpadang, Jumat (15/8) kemarin.

Selain dihadiri Wakil Gubernur, acara tahunan itu juga dihadiri Ketua Badan Reintegrasi-Damai Aceh (BRA), Muhammad Nur Djuli, Kasdam Iskandar Muda, Brigjen TNI Hari Purnomo, Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA), Ibrahim Syamsuddin KBS, dan ratusan warga Banda Aceh dan sekitarnya.

Tim pendukung
Munawar Liza, Shadia Marhaban, Teuku Hadi, tokoh GAM di Jerman, dan Damien Kingsbury punya peran penting dalam proses kesepakatan damai Aceh dengan Pemerintah Indoneisa. "Kami ibaratnya tim pendukung dan penasihat bagi para juru runding," kata Munawar Liza ketika dihubungi Serambi tadi malam.

Selama perundingan berlangsung mereka begitu intens mengikuti perkembangan dan men-support para juru runding GAM. Setiap kali pertemuan kedua belah pihak berlangsung, tim ini terus mamantau di kamar. Saat itu, tim yang juga termasuk pada juru runding GAM menempati sebuah kamar di lantai dua. Satu kamar lagi, juga dilantai dua, ditempati pihak Pemerintah RI. Sedangkan proses perundingan dilakukan di lantai dasar.

Dari gedung Koeningsted, tempat perundingan berlangsung, Munawar bersama timnya juga membangun komunikasi dengan jaringan luar. Salah satunya dengan Irwandi Yusuf. "Saat itu Irwandi tidak bisa datang ke tempat perundingan. Pak Irwandi hanya stand by di hotel. Jaraknya sekitar setengah jam perjalan ke gedung perundingan," kata Munawar Liza yang kini merupakan Walikota Sabang.

Walau tak bisa datang, Irwandi juga turut memantau detik demi detik kemajuan yang dicapai kedua belah pihak melalui telepon genggan dari kamar hotel. "Bahkan kalau ada klausul dalam MoU yang bisa merugikan GAM, sayalah yang pertama kena marah," katanya.

Bukan hanya Irwandi, Muhammad Nazar yang saat itu masih mendekam di Lembaga Pemasyaratakan (LP) Jawa Timur pun ikut memantau jalannya perundingan, walau hanya mengirim pendapat atau komentar melalui SMS.

Ancam pulang
Praktis, setelah perundingan mengalami jalan buntu pada sore tanggal 15 Juli itu, tim pendukung juru runding yang diawaki Munawar bersama tiga rekannya mulai bersiap-siap pulang ke Stockholm, Swedia. 

Demkian pula halnya Hamid Awaludin bersama tim juru runding dari Pemerintah Indonesia juga sempat mengancam akan pulang ke Indonesia kalau GAM tetap ngotot meminta partai lokal dimasukkan di dalam MoU. Bahkan mereka sudah menyiapkan tiket pesawat. "Pada saat itu kami sudah tarik dan kumpulkan kabel komputer dan bersiap keesokan harinya mau pulang, karena tak ada kesepakatan tentang partai lokal," tutur Munawar Liza.

Di tengah suasana gundah itu, tiba-tiba Hamid Awaluddin dan Sofyan Djalil datang ke kamar para juru runding GAM yang masih dalam satu gedung. Peristiwa ini tak pernah terjadi sebelumnya. Sebab, selama masa perundingan berlangsung, masing-masing tim baik GAM dan Pemerintah RI, menempati kamar terpisah. 

"Kami semua kaget. Sebab, ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Karena baik juru runding GAM maupun Pemerintah RI menempati kamar yang berbeda. Para juru runding hanya bertemu di ruangan lantai bawah gedung," katanya.

Kehadiran Hamid dan Sofyan ternyata membawa kabar baik. Pemerintah Indonesia sepakat bila klausul partai lokal masuk dalam MoU Helsinki. Ini diputuskan setelah Hamid Awaluddin melakukan kontak telepon langsung dengan Wapres Jusuf Kalla yang saat itu juga memantau setiap perkembangan selama perundingan berlangsung dari Indonesia.

"Kita hari ini sudah mencapai sebuah kesepakatan besar," kata Hamid seperti ditiru Munawar Liza. Pembicaraan itu berlangsung di kamar para juru runding GAM.

Mendengar perkataan Hamid yang mulai melunak itu, Malik Mahmud tampak cerah. "Benar Pak Hamid. Kita harus mewujudkannya," kata Malik saat itu.

Akhirnya, sebuah kesepakatan dibuat. Baik GAM dan Pemerintah RI sepakat bahwa parlok boleh dibentuk di Aceh. "Redaksi bahasa soal partai lokal ini kemudian dirembukkan bersama dan akhirnya menjadi sebuah kesepakatan bersama," ujar Munawar.

Kesepakatan ini kemudian menjadi entry point atau pintu masuk bagi kedua belah pihak untuk menandatangani draf MoU itu pada 16 Juli, keesoakan harinya.

Sebulan kemudian, tepatnya 15 Agustus 2005, draf MoU itu resmi ditandatangani kedua belah pihak yang dimediasi oleh Martti Ahtisaari, bos Crisis Management Inisiative (CMI). Sejak saat itulah bunyi salak senjata berhenti berdentum di bumi Aceh. Para gerilyawan GAM mulai turun dari markasnya di gunung-gunung.

Tidak sedikit pula masyarakat meneteskan air mata saat itu pertanda syukur. Damai sudah bersemi. Rakyat Aceh menyambutnya penuh gembira dan rasa syukur.
Di warung kopi hingga Masjid Raya Baiturrahman, warga berjubel menyaksikan peristiwa bersejarah itu. Tidak hanya masyarakat, peringatan tiga tahun MoU kali ini juga memberi kesan kepada Wakil Gubernur Muhammad Nazar.

Kala itu, Nazar juga ikut berperan penting dalam mendukung kesepakatan damai hingga berakhir dengan penandatanganan MoU. Walau dari balik jeruji besi, ia masih sempat mengirimkan SMS kepada tim juru runding GAM di Helsinki, untuk memberi masukan. 

Ia juga intens menanyakan kepada tim apa-apa saja butir yang sudah disepakati kedua belah pihak. Bahkan ada beberapa utusan dari Ahtisaari pernah menjumpainya di penjara untuk meminta konsep yang diinginkan SIRA saat itu. 

"Bahkan saya sempat bilang kalau tidak ada partai lokal dalam MoU, SIRA akan menarik dukungan dari perundingan. Akhirnya alhamdulillah itu ternyata diterima," tukas mantan Presidium SIRA itu dalam peringatan tiga tahun MoU di Blangpadang, Banda Aceh, kemarin. 

Perubahan drastis
Kisah para juru runding GAM ini memang sudah usai. Tapi sejarah mencatat, andil mereka telah membawa perubahan drastis bagi jutaan masyarakat di Serambi Mekkah itu. Tak terkecuali bagi Jariah (45). Kini ibu delapan anak ini sudah merasakan damai Aceh dalam kehidupan sehari-hari. "Sekarang sudah sangat beda dengan dulu. Kita tidak takut lagi kalau berjualan. Sudah aman," kata wanita ini.

Jariah adalah seorang pedagang mi di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Dulu, sekitar tahun 2003 dia berjualan di kampungnya di Langsa. Tapi hampir tiap hari ia merasa tidaknya nyaman, karena pengaruh konflik yang bergolak saat itu. "Kalau dulu pukul empat sore sudah tutup. Tapi sekarang saya sudah pindah ke Banda Aceh dan jualan lagi. Kalau sekarang tutupnya pukul enam sore," tutur janda delapan anak itu.

Tapi harapan damai buat Jariah masih harus meretas jalan panjang. Sebab, sampai saat ini masih ada butir-butir MoU Helsinki yang belum dilaksanakan Pemerintah Indonesia. Akankah damai Aceh mekar selamanya? (ansari)





Aku benar-benar terpesona dengan lagunya Joan Beaz. Dona Dona, judulnya. Keren. Buat perempuan yang namanya Dona Dona mungkin pasti senang. Karena namanya diabadikan dalam sebuah lagu. Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa ada judul lagu, Dona Dona. Mungkin ini hanya diketahui oleh penulis liriknya.


Tapi yang kulihat dari lirinya, kalimat Dona Dona menjadi salah satu refrein dalam lagu ini. Dan aku sangat kagum dengan iramanya yang sendu dan mendayu dayu. Jujur aku mengatakan, sebelumnya tidak pernah aku mendengar lagu ini.


Aku baru tahu saat acara Kick Andy di Metro TV. Rupanya Dona Dona adalah Sound Tracknya film layar lebar, semi dokumenter berjudul "Gie". Film yang di sutradarai Riri Reza dan Mira Lesmana ini menceritakan kisah perjalanan seorang aktivis mahasiswa bernama Soe Hok Gie. Soe Hok Gie lahir 17 Desember 1942 dan meninggal dalam usia muda pada 16 Desember 1969. Atau tepatnya pada umur 26 tahun.

Gie adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969. Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat tiga hari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung itu. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Pada 16 Desember lalu, Kick Andy mengangkat kembali kisah Gie melalui film berjudul "Gie".

Sosok Gie pada masa mudanya dikenal sebagai mahasiswa yang kritis dan memiliki jiwa patriotisme dengan perjuangannya yang selalu identik mengangkat isu keadilan dan hak asasi manusia. Gie juga sosok lelaki romantis. Ini terlihat dari beberapa tulisan dalam catatan hariannya yang kemudian menjadi dasar bagi pembuatan film Gie.

Sejujurnya pula aku tidak dapat menyembunyikan rasa kekagumanku pada Gie, tentu saja dengan lagu Dona Dona itu. Khusus untuk Sound Track Film Gie, lagu ini dibawakan Sita R S D, bukan penyanyi aslinya Joan Beaz. Tapi aku lebih suka Dona Dona yang dinyanyikan Sita dari pada Joaz. Aransmen musiknya semengat, merdu, mendayu dan tentu saja membangkitkan semangat orang-orang yang mendengarnya.

Saking sukanya, aku mendownload lagu itu dari internet yang kemudian aku dengar berulang kali. Ternyata di sana ada makna dan semangat yang luar bisa. Secara harfiah memang sulit untuk memahami makna. Ini dikarenakan kata-kata dalam lagu itu penuh dengan kata-kata kiasan.

Salah satunya lihat saja pada bait pertama. Kira-kira maknanya begini. (Dia atas sebuh kereta kuda menuju pasar/Ada seekor anak sapi dengan pacaran matanya yang sedih/ Jauh di atasnya ada seekor burung camar terbang melayang di atas langit). Makna bait pertama ini menunjukkan betapa anak sapi tersebut merindukan kebebasan seperti burung camar yang terbang bebas di atasnya, di atas langit. Mungkin penulis liriknya ingin menggambarkan bahwa betapa kebebasan itu sangat berharga. Tapi banyak manusia tidak mendapatnya.

Tidak hanya aku, banyak anak-anak muda juga sangat terkesan dengan lagu ini. Seperti dituturkan Muhammad Arkandiptyo dalam blognya yang aku coba buka-buka tadi. "Dalam pandanganku, lagu ini sangat spesial...karena liriknya penuh makna...suatu lagu untuk para pencari kebebasan...," kata Muhammad.

Dia menulis: "coba fikir - on a wagon bound for market; there's a calf with a mournful eye; high above him there's a swallow; winging swiftly through the sky - dalam satu kereta kuda yang menuju ke pasar; ada sapi dengan mata berduka; diatasnya ada burung; terbang cepat mengarungi langit...betapa suatu frasa kiasan yang dalam artinya...sang sapi ini bisa diartikan sebagai kebanyakan orang di dunia ini...terkekang...terkurung - mereka mendongak ke atas, iri dan berduka melihat burung-burung camar yang ada di atas mereka...burung camar yang berkeliaran bebas di angkasa ini menurutku adalah kiasan...tentang kebebasan yang diidam-idamkan setiap orang di dunia ini terutama mereka yang telah mengalami masa-masa buruk selama hidupnya...dalam kata lain....lagu ini benar-benar adalah frasa idioma mengenai hidup ini...dimana orang-orang mengidam-idamkan kebebasan sebagai salah satu hasil akhir keberhasilan mereka di dunia." Yah, begitulah.

Memang tidak salah jika Riri Reza dan Mira Lesmana menjadikan lagu Dona Dona menjadi sound track untuk film Gie yang dibintangi Nicholas Saputra.
Memang hampir sepanjang alur ceritanya film ini mengangkat soal isu kebebasan, demokrasi dan pergolakan mahasiswa ketika itu di bawah kekuasan rezim sukarno dan suharto. Bagi aku, Gie memang sosok pantas untuk di banggakan, pantas untuk dikenang jejak-jejak perjuangan.

Dan tentu pula patut untuk ditiru oleh generasi muda sekarang. Tidak hanya sosoknya, tapi juga karya-karyanya yang harus menjadi inspirasi. Dari banyak sisi sosok Gie, buat aku nilai-nilai romantisme yang ada pada diri Soe Hok Gie juga menjadi sesuatu yang sangat aku kagumi.

Lihat saja satu puisi Gie berikut yang menurutku sangat melankolis. Hingga sekarang tidak penah siapa tahu nama IRA. Karena Gie memang tidak pernah menceritakan siapa sosok perempuan itu.


PUISI GIE UNTUK IRA

Ada orang yang menghabiskan waktunya ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Mirasa
Tapi aku ingin menghabiskan waktu ku di sisi mu… sayangku…

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biapra

Tapi aku ingin mati di sisi mu…
Manis ku…

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini sayang ku…

Kalian yang pernah mesra
Yang simpati dan pernah baik pada ku

Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung…

Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak kan pernah kehilangan apa-apa

Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan
Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda

Mahluk kecil…
Kembalilah dari tiada ke tiada…
Berbahagialah dalam ketiadaan mu…

Hmmm....so sweet, so romantis bukan. Masih banyak lagi karya-karya Gie yang tersimpan dalam buku catatan hariannya "Catatan Seorang Demonstran". Aku ingin memilikinya. Tapi sulit untuk mencarinya. Dan tentu saja, lagu Dona Dona itu yang belakangan ini menjadi lagu yang paling sering kuputar di sela-sela
malam tidurku. (*)


VIRUS HIV/AIDS ternyata tidak hanya menyerang populasi berisiko, seperti pekerja seks komersial, sopir jarak jauh, pengguna narkoba melalui jarum suntik atau mereka yang berperilaku kerap berganti pasangan atau doyan ‘jajan’ di luar. HIV/AIDS yang merupakan virus yang menyerang kekebalan tubuh, juga menyasar ibu rumah tangga dan anak-anak. Sebagian besar para penderita dari kelompok ibu dan anak ini merupakan korban dari perilaku hidup orang-orang terdekatnya, seperti suami yang sering ‘jajan’ di luar, atau menggunakan jasa PSK untuk memuaskan nafsu, maupun mereka yang kerap menggunakan narkoba melalui jarum suntik yang tidak steril.

Menurut staf KPA Provinsi Aceh, Dewi Fachrina, biasanya penderita HIV/AIDS dari kelompok anak dan ibu ini ditularkan lewat suaminya.

“Setelah suami ‘jajan’ di luar, lalu pulang ke rumah dan melakukan hubungan seks dengan istrinya. Apabila suaminya sudah tertular HIV/AIDS maka, kemungkinan besar istirnya juga akan tertular. Demikian juga bila istrinya hamil dan melahirkan anak,” ujar Dewi.

Menurutnya, data yang dirilis KPA Provinsi, ibu rumah tangga menempati urutan kedua terbanyak penderita HIV/AIDS dengan 51 kasus. Sementara urutan teratas di tempati penderita dari kalangan wiraswasta dengan 84 kasus. Selain itu, kelompok pederita HIV/AIDS juga menyasar petani, PNS, sopir, mahasiswa, buruh, ABK, PSK, pensiunan, TNI, pengangguran dan siswa. Sebagian besar ibu dan anak ini tidak mengetahui dirinya tertular virus HIV/AIDS.

“Persoalan yang paling rumit adalah, banyak suami yang sudah mengetahui berisiko tertular HIV/AIDS, mereka enggan memeriksa dirinya ke rumah sakit,” kata Dewi.

Padahal, katanya, semakin cepat virus HIV/AIDS diketahui, maka akan semakin mudah dilakukan pengobatan. Sehingga setiap penderita tidak sampai harus menunggu virus berkembang ke stadium AIDS, yang akan bisa berakibat pada kematian.

Dewi menyebutkan, sosialiasi penularan HIV/AIDS semestinya juga harus dilakukan kepada ibu tumah tangga. Terutama bagi ibu yang suaminya berisiko dengan HIV/AIDS.

“Kalau ibu rumah tangga yang sudah tahu riwayat pekerjaan suaminya berisiko tertular HIV/AIDS,  maka harus berinisiatif memeriksakan dirinya dan suami ke rumah sakit sehingga bisa diketahui lebih awal jika ada infeksi menular seksual (IMS),” ujar Dewi. (sar)


PENYEBARAN virus HIV/AIDS di Aceh semakin mengkhawatirkan. Seperti tidak mengenal batasan umur, virus mematikan ini menyasar berbagai lapisan masyarakat dan strata sosial. Mulai anak-anak, remaja, mahasiswa, lelaki dan perempuan dewasa, sampai ibu rumah tangga masuk dalam daftar panjang para penderita.

Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Provinsi Aceh menyebutkan,  sampai September 2014 tercatat ada 297 kasus HIV/AIDS di Aceh, tersebar di 23 kabupaten/kota. Sebanyak 97 penderita di antaranya dilaporkan meninggal dunia. Fenomena memiriskan ini diulas Serambi untuk laporan eksklusif edisi ini.

Umar, sebut saja namanya demikian, terbaring lemas. Dia tergolek kaku di ranjang. Tubuhnya tinggal tulang-belulang dibungkus kulit. Matanya membelalak. Sesekali Umar mengerang kesakitan.  “Aduh mama, sakit kali,” ucapnya saat dijenguk Serambi, pekan lalu. Sang mama yang berdiri di samping Umar terlihat mengelus-elus punggung putranya itu. Sang istri juga setia menemani.

Pria yang beralamat di sebuah kompleks perumahan Kota Banda Aceh itu kini dirawat di sebuah ruang isolasi RSU Zainoel Abidin Banda Aceh. Virus HIV sudah menyerang berbagai organ tubuhnya, termasuk sistem pernafasan.

Sal khusus penyakit-penyakit infeksi itu tak cuma merawat Umar. Ada beberapa penderita HIV/AIDS lainnya yang berasal dari berbagai kabupaten/kota di Aceh. Indro, misalnya, seorang penderita AIDS yang sebelumnya bekerja di sebuah salon di Banda Aceh, juga dirawat di sal yang sama. Ada pula yang berasal dari Bireuen. Pria yang mengaku sebelumnya berprofesi sebagai sopir ini juga tergolek lemas. “Rata-rata kami menerima sekitar tujuh pasien HIV/AIDS per bulan,” ungkap seorang petugas kepada Serambi di ruang khusus Bagian Penyakit Dalam, pekan lalu.

Hasil analisis data KPA Provinsi juga menunjukkan, ada kencenderungan jumlah penderita dan wilayah sebaran virus HIV/AIDS meningkat 100 persen dari tahun ke tahun. Aceh Utara, misalnya, menempati urutan teratas dari segi jumlah penderita yang mencapai 30 kasus.

“Kasus HIV/AIDS ini ibarat fenomena gunung es. Hanya sebagian kecil yang terdeteksi,” kata staf KPA Provinsi Aceh, Dewi Fachrina kepada Serambi, Kamis 16 Oktober 2014.

Menurut estimasi (perkiraan) Asean Epidemologi Model (AEM) Aceh 2004, jumlah infeksi baru (penderita) HIV/AIDS di Aceh pada 2014 mencapai 2.583 kasus.

Analisa ini menunjukkan grafik penularan HIV/AIDS makin mengkhawatirkan, karena terjadi penambahan drastis penderita setiap tahun. Namun sejauh ini, KPA Provinsi hanya menemukan 297 kasus HIV/AIDS. Pasien yang positif HIV/AIDS ini rutin menjalani pengobatan dengan mengonsumsi obat antiretroviral (ART), untuk memperlambat perkembangan virus. Sementara perkiraan terhadap ribuan penderita infeksi baru (belum terdeteksi), seperti yang dirilis AEM Aceh 2004 masih sulit diungkap karena keterbatasan anggaran dan lumpuhnya operasional beberapa KPA kabupaten/kota. Selain itu, penemuan kasus infeksi baru HIV/AIDS juga masih terkendala karena penderita enggan memeriksa kesehatan di rumah sakit. Baik untuk tindak lanjut pengobatan maupun antisipasi penyebaran virus.

Dewi mengilustrasikan, penyebaran HIV/AIDS begitu mengerikan jika tidak ada kesadaran mereka yang masuk dalam populasi berisiko terjangkit virus memeriksakan diri ke rumah sakit.

Misalkan seorang lelaki yang positif HIV/AIDS berhubungan seks dengan wanita baik-baik, maka wanita tersebut berisiko tertular. Apabila mereka menikah, maka virus juga berisiko untuk diturunkan kepada anak-anak yang lahir dari ibunya.

“Jadi bayangkan saja kalau ada 297 lelaki dewasa positif HIV/AIDS menikah dengan 297 wanita baik-baik dan melakukan hubungan seksual, maka akan ada 297 orang baru yang terinfeksi virus. Kemudian setelah mereka punya anak, maka anak-anak itu juga berisiko untuk terjangkit virus dari orang tuanya,” ujar Dewi.

Namun bukan persoalan sepele untuk mengetahui berapa jumlah riil penderita HIV/AIDS di Aceh karena banyak penderita yang enggan memeriksakan diri ke rumah sakit. Malu dan merasa mendapat perlakuan diskriminatif masyarakat merupakan dua alasan paling dominan yang mendorong mereka enggan memeriksakan diri ke rumah sakit. Padahal, kata Dewi, hal yang paling ditakutkan adalah keberadaan para penderita HIV/AIDS yang tidak terdeteksi ini jauh lebih berbahaya dibandingkan mereka yang sudah terdeteksi dan menjalani masa pengobatan.

Penderita positif HIV/AIDS yang tidak tahu dirinya terjangkit virus, akan terus menularkan HIV/AIDS kepada orang lain. Bahkan mungkin kepada pasangan dan keturunannya.

“Mereka menganggap dirinya baik-baik saja, padahal di dalam tubuhnya sudah terjangkit virus. Tapi mereka tidak sadar, dan tidak pula berusaha memeriksa kesehatan ke rumah sakit. Keberadaan mereka yang berisiko ini jauh lebih berbahaya dari mereka yang sudah terdeteksi positif HIV/AIDS. Jumlahnya bisa mencapai ribuan,” jelasnya.

Menurut Dewi, ada beberapa kelompok yang dikategorikan sebagai populasi kunci, atau mereka yang berisiko tertular HIV/AIDS. Misalkan, sopir yang bepergian jauh yang sering ‘jajan’ di sembarang tempat, pekerja seks komersial (PSK), suami yang kerap gonta-ganti pasangan serta pengguna narkoba melalui jarum suntik.

“Mereka  positif HIV masih dapat beraktivitas normal dengan rutin berobat untuk memperlambat perkembangan virus. Tapi bagi mereka yang sudah stadium empat terjangkit AIDS, sudah sulit untuk diobati,” ujarnya.

Menurut Dewi, virus HIV/AIDS baru terlihat menyerang kekebalan tubuh dalam retang waktu lima sampai 10 tahun sejak virus ditularkan. Meskipun demikian, katanya, mereka yang dengan HIV/AIDS perlu mendapat dukungan masyarakat untuk menjalani hidup yang lebih baik, dengan tidak membuat stigma dan perlakuan diskrimintif kepada penderita.

Fenomena penanggulangan HIV/AIDS merupakan program pemerintah yang dituangkan dalam Instruksi Presiden. Wakil Gubernur setiap provinsi menjadi ketua pelaksana KPA Provinsi. Demikian pula dengan Wakil Bupati/Wali Kota menjadi Ketua Pelaksana KPA kabupaten/kota. Namun ironisnya keberadaan KPA sebagai lembaga koordinasi penanggulangan HIV/AIDS di Aceh dalam beberapa tahun terakhir seperti mati suri, bahkan tidak memiliki program konkret. Sementara penyebaran HIV/AIDS dari tahun ke tahun terus meningkat, tidak diimbangi dengan upaya serius pemerintah menanggulangi penyebarannya.

Dewi Fachrina menyebutkan, pada 2014 KPA Provinsi sama sekali tidak mendapat dukungan dana dari Pemerintah. Kondisi ini membuat gerak langkah KPA provinsi pincang.

“Selama ini kita hanya melakukan pertemuan, monitoring dan evaluasi dengan beberapa KPA kabupaten/kota melalui bantuan dana dari Dinas Kesehatan,” ujarnya.

Menurut Dewi, akibat tidak adanya dana ini, membuat KPA terkendala melakukan penelusuran terhadap kasus-kasus infeksi baru HIV/AIDS di Aceh. Bahkan target KPA Provinsi menemukan 477 kasus infeksi baru HIV/AIDS pada 2014, dan mengetahui jelas penderitanya tidak dapat terwujud karena terkendala dana.

“Kita hanya mampu menemukan 297 kasus saja, jauh dari target yang kita perkirakan pada 2014 sebanyak 477 kasus,” ungkap Dewi. Menurutnya, hal ini dinilai suatu kondisi memiriskan.

Sebab, penanggulangan HIV/AIDS di Aceh melibatkan seluruh SKPA baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

“KPA hanya memiliki fungsi koordinasi dengan semua lintas sektoral dan melakukan monitoring serta evaluasi. Tapi peran ini sulit dilakukan jika tidak didukung pemerintah,” demikian Dewi. (ansari)


KEPALA Seksi (Kasi) Peran Serta Masyarakat BNNP Aceh, dr Arifdian mengatakan, selama tahun 2010 ada sekitar 350 anak Aceh yang menjalani proses rehabilitasi karena kecanduan narkoba. Selain panti rehab BNNP Aceh, ada juga tiga tempat lainnya untuk menampung para pecandu narkoba di Banda Aceh yaitu Panti Rehabilitasi Rumoh Geutanyoe, RSJ Aceh, dan Yayasan Tabina yang baru terbentuk 2014. Menurut Arifdian, para residen (pecandu yang menjadi rehabilitasi) penyalahgunaan narkoba di Aceh sudah memasuki tahap paling mengkhawatirkan.

“Sebanyak 90 persen rata-rata pencandu mengonsumsi sabu plus ganja,” ungkapnya kepada Serambi, Jumat 18 Juli 2014. Arifdian menyebutkan, ibarat bom waktu, jika dilihat dari jumlah kasus, lima tahun ke depan Aceh akan mengalami ledakan pecandu narkoba baru. Lebih memiriskan lagi, katanya, kenyataan ini tidak diimbangi dengan ketersediaan dana dan tempat rehabilitasi yang  memadai di Aceh. “Rehabilitasi Napza tidak masuk dalam program BPJS. Lantas, bagaimana dengan pecandu yang berasal dari keluarga miskin. Mau dikemanakan mereka. Siapa yang bertanggung jawab?” ujarnya.

Menurut Arifdian, mereka yang sudah masuk panti rehab juga tidak sepenuhnya terjamin bebas narkoba. Berdasarkan studi kasus dari 100 pencandu yang menjalani rehabilitasi, hanya satu yang mampu berjuang bebas murni dari narkoba. “Sementara yang lainnya ada kecenderungan kembali releap (kambuh lagi). Sebab, narkoba memiliki zat adiktif paling kuat di dunia yang menyerang saraf otak,” ujarnya. “Kuncinya seorang pecandu yang sudah menjalani rehabilitasi harus bisa mengendalikan diri,” saran dr Arif.(ansari)

peningkatan kasus
* Tahun 2007: 134 kasus sabu dan 205 kasus ganja
* Tahun 2008: 185 kasus sabu dan 401 kasus ganja
* Tahun 2009: 218 kasus sabu dan 405 kasus ganja
* Tahun 2010: 250 kasus sabu dan 316 kasus ganja
* Tahun 2011: 325 kasus sabu dan 325 kasus ganja

data dan fakta
* 5 Juli 2014: Polda Aceh menyita hampir 2 ton ganja di Desa Pulo, Lamteuba, Seulimum, Aceh Besar. Tersangka melarikan diri.
* 7 Juli 2014: Petugas aviation security (Avsec) Bandara SIM, Blangbintang, Aceh Besar, menangkap satu tersangka. Barang bukti 1.029 gram sabu.
* 19 Mei 2014: Petugas aviation security (Avsec) menangkap dua tersangka di Bandara SIM, Blangbintang, Aceh Besar. Barang bukti 381,5 gram sabu.
* 16 Juni 2014: Polres Aceh Tamiang menangkap tersangka dan 2 kg ganja dalam razia gabungan.
* 17 Juli 2014: Polda Aceh menangkap empat tersangka di Jalan Laweung-Krueng Raya, Aceh Besar. Barang bukti 249 kg ganja.
* 27 Juni 2014: Polres Gayo Luwes menangkap satu tersangka. Barang bukti 86 bal ganja (315 kg).


JO tak pernah membayangkan jika perkenalannya dengan seorang oknum TNI telah membawanya ke dunia kelam narkoba. Diawali dengan ingin coba-coba, akhirnya ia menjadi pecandu berat SS. Sampai di suatu hari, akibat ketergantungan pada sabu, Jo merasa sakau dan butuh uang segera untuk membeli barang haram itu. “Di saat saya butuh, dan tidak punya uang, saya menggadaikan apa saja. Mulai dari laptop, kendaraan dan barang berharga lainnya. Uang di tabungan saya juga tidak ada yang tersisa. Bagaimana caranya saya bisa ambil barangnya,” tutur Jo kepada Serambi menceritakan pengalaman pahitnya selama hidup dengan ketergantungan sabu.

Serambi menemui lelaki berusia 23 tahun itu di Panti Rehabilitasi Pecandu Narkoba milik Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, Jumat 18 Juli 2014. Kini Jo menghabiskan hari-harinya di panti itu bersama sekitar delapan temannya yang masih dalam proses pemulihan dari ketergantungan narkoba. Atas inisiatif sendiri dan didukung keluarga, Jo sudah menjalani program rehabiltasi sejak tiga bulan lalu.

Saat Serambi menyambanginya Jumat lalu, tampak Jo bersama beberapa penguhuni panti (community therapy) tengah melaksanakan shalat Ashar berjamaah. Pada malamnya, mereka menyibukkan diri dengan shalat tarawih dan berbagai kegiatan lainnya.

Panti Rehabilitasi BNNP Aceh mulai beroperasi sejak 2012. Berlokasi di bekas gedung Poli Klinik RSUZA Banda Aceh, panti rehabilitasi ini memiliki daya tampung sekitar 10 orang atas biaya Pemerintah Aceh.

 Saling berbagi
Para residen panti (pecandu narkoba yang menjalani pemulihan) mengikuti program terapi selama enam bulan. Pada satu minggu pertama masuk, setiap residen akan ditempatkan di ruang isolasi untuk proses detoksifikasi yaitu mengeluarkan racun dan zat narkoba dari dalam tubuh mereka. Setelah menjalani detoksifikasi pecandu mendapat terapi lainnya yang ditetapkan pengelola panti dan konselor yang mendampingi mereka.

Layaknya dalam sebuah keluarga mereka juga bisa saling berbagi cerita. Bahkan setiap pagi mereka diminta untuk menuliskan catatan (diari) tentang apa yang mereka rasakan dalam hidupnya (share feeling).

“Saya seperti berada di dunia baru yang tak pernah saya rasakan sebelumnya. Kalau dulu malam seperti siang, dan siang seperti malam. Hidup saya tidak teratur,” kata Jo. Lelaki tamatan diploma ini mengaku sudah mengonsumsi sabu 11 tahun lalu sejak kelas 1 SMU. “Kalau sudah kena, saya sanggup tidak tidur dua hari dua malam,” ujarnya.

Sampai satu hari di tahun 2014, Jo memutuskan untuk mengakhiri ketergantungannya dengan narkoba. Didukung penuh orang tuanya, ia memilih masuk panti rehab BNNP Aceh. “Alhamdulillah sekarang sudah jauh lebih baik. Saya bisa olahraga dan makan teratur di sini,” ujarnya. Ia berjanji untuk bisa lepas sepenuhnya dari ketergantungan narkoba setelah masa rehab berakhir.

Lain Jo, lain pula Fik. Lelaki berusia 32 tahun ini mengaku memilih masuk panti rehab karena sudah tak tahan lagi racun narkoba menggerogoti tubuhnya. Selama delapan tahun Fik hidup dalam ketergantungan sabu hingga memupuskan harapan hidupnya. Ia dikucilkan masyarakat. “Kalau boleh kita bilang kita ini seperti sampah masyarakat. Tidak ada harganya sama sekali,” ujarnya. Dengan tekad bulat dan didukung orang tua, akhirnya ia masuk ke Panti Rehabilitasi BNNP Aceh. Tiga bulan berada di panti, lelaki ini mengaku seolah dia menemui kembali hidupnya yang sebelumnya dalam kendali sabu.

“Saat saya butuh, harus bisa dapat meskipun dengan cara apa pun. Tapi sekarang saya tahu narkoba itu ternyata sangat berbahaya karena bisa mengendalikan hidup kita,” kata Fiks yang mengaku sudah mengonsumsi sabu sejak 2005 dari awalnya coba-coba dari teman. “Setelah dari sini, saya ingin kembali hidup normal,” ujarnya. Fiks juga punya cita-cita segera ingin menikah. (ansari)


NARKOTIKA, khususnya sabu-sabu (SS) digunakan oleh warga Aceh dengan beragam usia. Sabu bahkan sudah memasuki dunia kampus dan pesantren. Saat ini, tidak kurang 10.000 warga Aceh yang mengonsumsi narkoba. Di sisi lain, tempat-tempat rehabilitasi pecandu narkoba ini masih sangat terbatas jumlahnya. Jika tidak ada kebijakan khusus, akan terjadi ledakan pecandu narkoba di Aceh dalam beberapa tahun ke depan. Serambi menuliskan tren penggunaan sabu di Aceh, dalam laporan eksklusif edisi ini.
  

SAFRI Kasim (54) tidak berkutik ketika petugas keamanan penerbangan Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Aceh Besar, membekuknya, Selasa 8 Juli 2014. Lelaki asal Jakarta ini berusaha menyelundupkan satu kilogram SS melalui Bandara SIM dalam sebuah tas jinjing. Dengan sikapnya yang tenang berharap petugas aviation security (Avsec) mengizinkan ia masuk membawa tas kecil tersebut melalui pintu depan yang hanya mendapat pemeriksaan badan lewat metal detector. Tapi petugas tak mengizinkannya dan meminta dia menaruh tas itu agar melewati X-Ray. Nahas, saat melalui jalur pemindai, aksi pelaku terbongkar. Dalam tas itu ditemukan 10 bungkus SS seberat 1 kilogram senilai Rp 1 miliar.

Pelaku asal Cilincing, Jakarta, ini mengaku barang itu ia peroleh dari seorang bernama Azis, yang mengantarnya ke Bandara SIM dari Bireuen. Kepada petugas, Safri mengaku hanya sebagai kurir. Ia dibayar Rp 10 juta untuk menyelundupkan sabu itu ke Jakarta menggunakan pesawat Garuda.

Kasus penyelundupan SS melalui Bandara SIM ini bukan yang pertama. Sebelumnya, pada 19 Mei 2014 petugas keamanan penerbangan Bandara juga menangkap dua tersangka, Feriansyah Akbar dan Muhammad Syarif dengan barang bukti 381,5 gram SS.

                      ***
Sejak dua tahun terakhir Aceh menjadi provinsi target para sindikat narkoba. Tidak hanya lewat jalur udara, kini para sindikat narkoba semakin lihai beroperasi lewat jalur darat dan laut. Terlebih Aceh yang terletak di kawasan perairan Selat Malaka kerap digunakan sindikat narkoba Malaysia-Aceh sebagai jalur paling strategis menyelundupkan narkoba jenis SS.

“Sebagian besar SS yang masuk Aceh berasal dari luar. Letak Aceh di wilayah perairan Selat Malaka menjadi pintu masuk paling strategis yang digunakan para sindikat menyelundup sabu,” kata Direktur Ditnarkoba Polda Aceh, Kombes Pol Trapsilo kepada Serambi, Jumat 18 Juli 2014.

Tidak dipungkiri, SS yang masuk ke Aceh, terutama dari Malaysia tergolong SS berkualitas baik. “Hampir rata-rata yang kita tangkap, sabunya berkualitas nomor satu, barangnya juga bersih yang menandakan itu produk luar,” katanya.

Dari beberapa kasus penyelundupan SS yang ditangani polisi, para pelaku mengakui jika sabu tersebut diperoleh dari luar Aceh, meskipun dalam kasus penangkapan tersangka terjadi di Aceh saat barang haram itu hendak dibawa ke Jakarta. Atas pengakuan para tersangka, Trapsilo belum dapat menyimpulkan SS yang ditangkap aparat merupakan produk pabrik lokal.

“Sejauh ini kita melihat pabrik dan lab sabu belum ada di Aceh. Semua yang kita tangkap berasal dari luar Aceh,” tegasnya.

 Rute penyelundupan
Menurut Trapsilo, pihaknya telah memetakan sejumlah daerah rawan penyelundupan SS ke Aceh. Umumnya jalur atau pintu masuk SS tersebut dipasok melalui jalur tikus melewati kawasan perairan Selat Malaka wilayah timur Aceh; Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, dan Aceh Timur. Akses yang mudah dan kelengahan aparat melakukan patroli membuat para sindikat merajalela beroperasi. Kondisi ini seolah membuat Aceh semakin dikepung dari berbagai lini darat, laut dan udara oleh para sindikat plus bandar dan pengedar.

Trapsilo menegaskan, peredaran narkoba sejenis SS dan ganja di Aceh sudah dalam tahap paling mengkhawatirkan. Tidak hanya melibatkan pemain lokal, namun juga terorganisir rapi melibatkan sindikat internasional.

“Dilihat dari jumlah kasus yang terungkap sudah sangat mengkhawatirkan. Rata-rata setiap bulan ada 90 sampai 100 kasus di seluruh Aceh. Kalau satu kasus, ada satu tersangka, maka satu tahun sudah seribu lebih, dan itu baru yang terungkap,” ujarnya.

Berdasarkan data Polda Aceh tahun 2013, pengguna narkoba berbagai jenis di Aceh mencapai 10 ribu orang, dengan kasus yang terungkap 1.075 perkara, dan barang bukti yang diamankan jenis sabu-sabu 10 kilogram lebih.

Lintas usia

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh menyebutkan, 90 persen pecandu di Aceh menggunakan narkoba jenis sabu. Hal ini mengindikasikan adanya tren pengguna ganja beralih ke sabu.

“Pengguna sabu dan ganja paling dominan di Aceh. Rata-rata penggunanya usia produktif dengan berbagai latar belakang mulai dari anak sekolah, ibu rumah tangga sampai pekerja swasta dan PNS,” kata Kabid Pencegahan BNNP Aceh Majidah kepada Serambi, Kamis 17 Juli 2014.

Hasil tes urine yang dilakukan BNNP Aceh terhadap mahasiswa di 10 kampus di Banda Aceh pada 2012, sembilan kampus di antaranya positif memakai narkoba. Fakta ini membuktikan narkoba sudah merambah sampai ke institusi pendidikan.

“Bahkan sekarang anak-anak di pelosok kampung juga sudah diracuni oleh narkoba. Sebuah kondisi yang memiriskan. Jika ini terus dibiarkan, maka Aceh akan mengalami lost generation (generasi yang hilang-red),” ujarnya.

Yang lebih menyedihkan, sabu juga mulai banyak diedarkan di dunia pesantren.  Seorang pimpinan dayah di kabupaten Bireuen  mengaku barang haram itu sempat masuk ke dayah yang dipimpinnya. Diakui, tidak mudah memang mengontrol ribuan santri, meskipun kini sudah berhasil dihentikannya.  

Berdasarkan data BNNP Aceh, kasus penggunaan sabu dari tahun ke tahun terjadi peningkatan. Dalam kurun tahun 2007-2011 tercatat 1.112 kasus sabu terjadi di Aceh dengan 1.570 tersangka. Dikatakan Majidah, narkoba dapat menjerumuskan pemakainya dalam pergaulan bebas, kerusakan saraf otak yang menyebabkan kegilaan, sampai terjangkit virus HIV/AIDS akibat penggunaan jarum suntik di kalangan pemakai.

“Kita sudah berusaha maksimal untuk mencegah. Termasuk mendatangi sekolah untuk melakukan sosialisasi dan membentuk kader di lingkungan institusi pendidikan,” ujarnya. Namun, kata Majidah, diperlukan keterlibatan semua pihak untuk mencegahnya. Atas keprihatinan itu pula pemerintah menetapkan tahun 2014 sebagai tahun Penyelamatan Penyalahgunaan Narkoba di Aceh.

Seorang psikiater dari RSJ Banda Aceh, dr Syahrial Sp.KJ mengatakan, orang-orang yang kecanduan narkotika jarang yang mau dirawat di rumah sakit jiwa. Syahrial mengaku tidak tahu berapa persen pasien yang harus dirawat di RSJ ini karena pengaruh kecanduan narkoba. “Mereka umumnya tak mau dirawat karena ingin tetap bebas, agar bisa fun (bersenang-senang), forget (melupakan masalah), dan function (merasa fisik lebih kuat),” kata Syahrial kepada Serambi. Sementara RSJ Banda Aceh sendiri punya unit rehabilitasi pecantu narkoba, meskipun sangat terbatas kapasitas tampungnya.(ansari)


SEJUMLAH lelaki hilir mudik mengangkut batangan pohon. Beberapa di antaranya berusaha memasukkan kayu gelondongan itu ke dalam truk yang parkir di pinggiran hutan. Sekilas, kayu-kayu bulat itu berdiameter 50-100 cm dan masih segar.

“Sepertinya batang kayu gelondongan ini sudah lebih dulu dipotong di dalam hutan sebelum diangkut ke truk. Ini salah satu bukti aktivitas illegal logging hasil temuan Walhi di Krueng Simpo, Kecamatan Juli, Bireuen pada Juni lalu,” kata Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh, M Nur kepada Serambi, Sabtu (8/11) lalu.

M Nur lalu memperlihatkan sejumlah foto lainnya yang juga menunjukkan sejumlah bukti aktivitas perambahan hutan lindung di Aceh. Dari sejumlah foto itu, terekam jelas kondisi hutan Aceh kini. “Kalau dilihat dari atas memang masih hijau, tapi kondisinya akan terlihat lebih parah jika ditelusuri masuk ke dalam. Banyak lokasi hutan lindung sekarang yang sudah rusak, tandus akibat terjadinya perambahan,” ujarnya.

Walhi Aceh merekam banyak fakta tentang berbagai lokasi hutan lindung yang menjadi sasaran perambahan secara sistematis dan masif. Walhi mensinyalir perambahan hutan ini diduga melibatkan perusahaan dan intervensi pemerintah. Fakta ini bukan isapan jempol.

Walhi mencatat, per Maret 2014 terdapat 159 perusahan yang beroperasi di Aceh. Sebanyak 76 perusahaan tersebut beroperasi di dalam kawasan hutan dan tidak memiliki izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH), 26 perusahaan tidak memiliki izin usaha produksi (IUP). Sementara 7 perusahaan lainnya yang beroperasi dalam kawasan hutan dan 19 perusahaan beroperasi di luar kawasan hutan masih dalam proses IUP.

Sepanjang satu dekade terakhir Walhi Aceh juga mencatat terdapat 236 izin hak guna usaha (HGU) yang diterbitkan BPN di Aceh sejak 1989-2010 dengan luas areal hutan lindung 20.821 Ha yang mengubah fungsi hutan menjadi lahan perkebunan sawit. Kondisi ini terjadi di Aceh Singkil, Abdya, Aceh Timur, Aceh Selatan, Aceh Barat, Bireuen, Simeulue, Aceh Besar, Aceh Jaya dan Langsa.

“Aktivitas illegal logging yang dilakukan perusahaan dampaknya lebih besar dibandingkan dengan aktivitas illegal logging murni yang dilakukan masyarakat. Sebuah perusahaan yang beroperasi di dalam hutan mampu menebang kayu seluas dua kali lapangan bola kali dalam satu hari,” ungkap M Nur.

Walhi mensiyilir bahwa tren perambahan hutan lindung di Aceh terjadi semakin sistematis dan masif. Beberapa bukti yang dan fakta terungkap, perambahan hutan Aceh terjadi dalam tiga bentuk aktivitas, berupa pembukaan lahan perkebunanan sawit, aktivitas pertambangan, dan pembukaan ruas jalan baru yang membelah hutan lindung.

“Asumsi bahwa illegal logging itu dilakukan penduduk yang hanya memotong satu dua batang kayu di hutan, itu suatu kekeliruan. Tren yang terjadi sekarang justru perambahan hutan di Aceh dilakukan secara sistematis dengan melibatkan perusahaan,” ujarnya.

Berbagai temuan kasus yang dikantongi Walhi semakin menguatkan dugaan tersebut. Modus yang kerap terjadi saat pembukaan ruas jalan, yang pertama dilakukan perusahaan adalah menebang pohon sebagai bukaan lintasan jalan. Perusahaan yang memenangi tender kerap diuntungkan berkali lipat dari hasil ‘penjarahan kayu’ ini.

Tidak hanya itu, M Nur menduga, aktivitas penebangan kayu untuk membuka ruas jalan tersebut dilakukan perusahaan sebelum mengantongi izin pakai hutan. Bahkan pemerintah ditengarai juga turut andil mendorong kerusakan hutan Aceh dengan mengeluarkan kebijakan membangun 42 ruas jalan yang membelah hutan lindung.

Menurut catatan Walhi, 60 persen lebih pembangunan jalan ini membelah hutan lindung dan hutan konservasi di 14 kabupaten/kota meliputi; Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Subulussalam, Aceh Singkil, Aceh Selatan, Abdya, Aceh Barat, Aceh Utara dan Bener Meriah.

“Fakta yang lebih memiriskan lagi, setelah jalan dibuka, maka sudah dapat dipastikan popoh-pohon di kawasan bukaan jalan baru tersebut akan habis ditebang, karena akses melakukan penjarahan semakin mudah dengan adanya pembukaan jalan,” ujarnya.

Tidak hanya pembukaan ruas jalan. Aktivitas pertambangan dan perkebunan juga memberi andil bagi kerusakan hutan lindung di Aceh. Walhi mencatat, saat ini ada ratusan ribu hektare area hutan lindung Aceh yang beralih fungsi menjadi kawasan bukan hutan.

Pada 2013, pemerintah melalui SK Menhut 941/2013 kembali menyetujui 80 ribu Ha hutan Aceh dialihfungsikan menjadi kawasan bukan hutan dari luas hutan lindung Aceh 3,5 juta Ha. Sementara itu 643 ribu Ha lainnya beralihfungsi untuk pembangunan ruas jalan dan perkebunan dan 259 ribu Ha beralih fungsi menjadi area pertambangan, dan 1.741 Ha dirambah penduduk dalam aktivitas illegal logging.

Dengan demikian, setidaknya kini seluas 983.1751 Ha hutan lindung Aceh sudah beralih fungsi menjadi kawasan bukan hutan. “Saat ini pemerintah Aceh juga mulai mewacanakan akan melakukan reklamasi rawa Singkil (Trumon, Aceh Selatan). Kebijakan ini suatu hal yang keliru, karena bisa berdampak mempercepat terjadinya banjir di kawasan itu,” ungkapnya.

Menurut M Nur, perambahan hutan yang sistematis dan masif ini diperkirakan akan membuat Aceh berada di ambang ancaman bencana ekologi. “Bisa dikatakan saat ini banyak kawasan hutan yang dulunya lebat, kini hanya tinggal hutan semak belukar. Pohon-pohon yang mampu menyerap air sudah habis ditebang, sehingga membuat struktur tanah menjadi labil, dan terjadilah longsor maupun bencana banjir bandang di mana-mana,” tegasnya. (sar)



Di jemari AKP Ibrahim Prades melingkar enam cincin bertahtakan batu mulia jenis safir, blue safir, zamrud, rubi, dan akik merah darah. Hanya yang terakhir yang berasal dari kekayaan negeri berjuluk zamrud khatulistiwa, Cilacap. Selebihnya telah bertajuk mustika dan diperoleh Prades dari teman yang melawat ke Kolombia, Rusia, Afrika Selatan, dan Myanmar.

Batu mulia yang datang dari berbagai penjuru dunia itu selain bercitarasa seni tinggi, konon juga dipercaya memiliki kekuatan mistis yang membuat pemakainya kebal peluru.

“Saya mengoleksi batu mulia sejak 20 tahun belakangan. Dulu saya dikatai gila dan berpenampilan seperti dukun. Padahal, dalam Islam sendiri khadam terhadap batu seperti halnya Hajaral Aswad. Orang-orang sekarang baru gila giok,” tutur Prades sembari terkekeh, terngiang komentar orang-orang terhadapnya.

Sejak pesona giok menggeliat di Bumi Aceh banyak kalangan yang jatuh hati pada kilauannya. Tidak hanya warga biasa, demam giok dan berbagai jenis batu mulia lainnya belakangan menjalar ke kalangan pejabat, eksekutif muda, wartawan, PNS hingga karyawan BUMN sekalipun.

Parades yang ditemui Serambi, Selasa (9/12) lalu di sela-sela kesibukannya mengawal aksi demo di DPRA, boleh dikatakan salah satu sosok pria penggila batu mulia yang sudah malang-melintang di dunia batu berharga itu.

Kapolsek Kuta Alam, Banda Aceh, ini terlihat fasih bercerita tentang aneka batu mulia koleksinya. “Kalau untuk giok, dari Nagan Raya adalah primadonanya. Istimewanya terletak pada warnanya dan dinamai sesuai karakter (solar, biosolar, spot light). Gaungnya sudah ke mana-mana, bahkan turis AS yang berkunjung ke Aceh juga tertarik membeli,” ulas Prades yang dijuluki “Raja Batu”.

Karena karakter dan citarasa seni yang tinggi itu pula menjadikan harga jual sebuah cincin bernilai fantastis. Parades mengaku hanya akan melepas cincin koleksi jika dihargai senilai ratusan juta atau setara dengan mobil Mercedes Benz. Sedangkan batu mulia jenis zamrud dari Kolumbia seharga Rp 500 juta yang dimilikinya menjadi yang termahal dan melingkar manis di jari sang istri.

Mengulik lemari koleksi Prades, terdapat ribuan batu mulia yang memancarkan kemilau. Bebatuan itu khusus dipajang mempermanis ruangan atau hanya untuk dijadikan cenderamata kepada sahabat atau kerabat.

Prades menuturkan satu di antara koleksinya berupa batu sepasang manusia yang didapatnya dari Tiro, Pidie. Menurut legenda yang berkembang, batu itu merupakan jelmaan raja dan ratu tempo dulu. Pembaca boleh percaya boleh tidak.

Kemilau batu mulia Aceh juga menyinari dua jari Mayjen TNI Agus Kriswanto, Panglima Kodam Iskandar Muda. Saat ditemui Serambi di ruang kerjanya, Rabu (10/12) lalu, Agus tampak antusias berbagi cerita tentang kekagumannya pada keindahan seni batu mulia asal Aceh ini. Bahkan kini dua cincin tampak melingkar indah di jari manis dan tengah pria asal Pekalongan, Jawa Tengah, ini. Keduanya berjenis cempaka madu dan giok solar. Kedua cincin berbatu mulia itu diperolehnya sebagai hadiah dari seorang anggota TNI saat berkunjung ke Teunom (Aceh Jaya) dan Nagan Raya seusai memberi arahan untuk Babinsa belum lama ini.

“Sewaktu pulang saya sempat menyalakan sinar di jari. Kelihatannya, kok saya seperti merasa keren dan tampak lebih muda lagi. Tentara kan memang harus kelihatan selalu muda,” kata Agus sambil tertawa.

“Mungkin anggota yang memberi cincin untuk saya merasa terharu setelah saya bertemu mereka. Saya menganggap pemberian ini juga bagian dari hubungan emosional, jadi bukan karena pangkat,” tutur Agus.

Sejak demam giok melanda Aceh, Agus akhirnya ikutan mengoleksinya. Meskipun belum terbilang banyak, namun Pangdam IM ini mengaku sudahh memiliki beberapa koleksi batu biok.

“Pertama kali saya pakai idocress, tapi kayaknya belum matang. Kemudian saya dapat solar, dan akhirnya saya jadi tertarik ikut mengoleksi beberapa,” kata Agus yang memiliki koleksi batu jenis idocrass, solar, lavender, dan cempaka madu.

Menurut Agus, sebuah benda bernilai seni tidak dapat dihargai dengan materi, termasuk batu mulia yang banyak diganderungi orang Aceh kini. “Selama benda itu kita suka, maka nilainya tidak bisa diukur dengan materi. Maka rakyat Aceh patut bersyukur karena memiliki kekayaan alam yang luar biasa yang jarang ada di tempat lain,” ungkap Pangdam.

Kilauan sinar giok ternyata tidak hanya sebatas buah bibir. Beberapa kalangan justru menjadikannya sebagai gaya hidup atau meningkatkan perfomance (penampilan) di tempat kerja. Beberapa kalangan di antaranya juga menjadikannya sebagai hobi dengan membentuk komunitas pencinta batu mulia beranggotakan sesama rekan kerja.

“Sekarang saya bersama teman-teman sudah ada kelompok dengan hobi yang sama, sehingga kita tidak lagi awam kalau bicara tentang batu yang kita koleksi,” kata Zulfitri (52), seorang karyawan bank yang ditemui Serambi di lokasi Gemstone.

Sejak demam giok melanda Aceh lelaki ini juga ikut-ikutan memburu giok. “Saya rasa ini hanya soal selera. Saya baru beberapa bulan terakhir tertarik. Waktu memakainya, terasa cocok, pas dengan penampilan saya,” ujarnya.

Zulfitri kini mengaku memiliki sejumlah koleksi batu dari berbagai jenis dan harga. Bahkan, belum lama ini, ia telah membeli satu bahan batu batangan (belum diolah) seukuran satu genggam tangan pria dewasa seharga Rp 4,5 juta dari seseorang. Batu itu berjenis cempaka madu merah pekat itu memiliki sebaran serbuk ‘intan’ di dalamnnya. “Batu itu mau saya jadikan cincin, tapi belum siap lagi. Ada yang menawar beli Rp 10 juta, tapi saya tolak,” tuturnya.

Tidak hanya untuk koleksi pribadi, Zulfitri juga mengirim giok koleksinya ke teman-temannya di Lampung dan Medan, Sumatera Utara. “Mereka minta, katanya, giok Aceh kualitasnya bagus,” katanya.

Bambang Irwansyah, pegawai bank lainnya mengakui, nilai seni sebuah batu tidak dapat diukur dengan materi. “Bagi orang mungkin tidak bernilai, tapi bagi kami seni dan keindahan pada batu menjadi sebuah ukuran yang sulit dihargai dengan materi,” ujarnya.

Tidak hanya pria, wanita juga ikut deman giok. Mardiana salah satunya. Guru di sebuah SMA di Banda Aceh ini tertarik dengan giok karena memiliki aura yang berbeda dengan batu mulia lainnya. Beberapa koleksi yang dimilikinya berupa cincin, liontin, dan gelang.

“Sekarang saya juga sedang siapkan empat lagi cincin giok untuk saya kirimkan ke anak saya di Ambon,” ujar ibu ini yang ditemui Serambi di Gemstone Ulee Lheue, Banda Aceh.

Selain meningkatkan perfomance saat bekerja, batu giok diyakini juga memiliki aura magis yang dapat menyembuhkan penyakit dan melancarkan peredaran darah. “Tapi saya memakainya lebih karena ingin tampil beda saja. Saya banyak koleksi dan bisa ganti kapan saja sesuai selera,” ujar Mardiana sumringah. (ansari/rul)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.